Sunday, August 10, 2014

Pencurian Klub Teater








Judul:Pencurian Klub Teater
Genre:Mistery, School-life
Author:Aliffiandika   



      “Kak gawat kak..!!”teriak gadis berambut pendek memasuki kelas 11 A-5.
     “heh? Ada apa ndre..?” kata Fian, kakak Riana Andreani, nama gadis tersebut. Mereka adalah pelajar SMA Negeri 6 Malang. Pada hari jumat SMA 6 Malang tengah melakukan persiapan menjelang perayaan Hari ulang tahun sekolah, sekolah berencana menampilkan pertunjukan drama oleh Klub Teater, penampilan klub-klub lain, serta penampilan Band-band siswa, tak lupa juga di meriahkan oleh berbagai lomba menarik lainya.
     “gawat, kostum kami hilang, kostum untuk Drama di Hari ulang tahun sekolah besok.”
     “terus?”kata Fian cuek membaca buku.
     “ayolah...kau kan jenius, tolong bantu kami...” Hari itu, Klub Teater kehilangan properti untuk acara pementasan di perayaan ulang tahun sekolah. Hal itu cukup membuat anggota Klub Teater panik, karena hal itu dapat mengagalkan pementasan.
     “baiklah baiklah...tunggu sebentar.” kata Fian memasukan bukunya ke dalam laci meja.
     “sudah nanti saja !, ini lebih penting.” Riana menyeret kakaknya menuju Ruang Teater, tempat berkumpulnya anggota Klub Teater.
     Di depan Ruang Klub sudah berdiri banyak siswa.“lho..lho ini siapa lagi kau bawa?”tanya Aisyah siswi kelas 11 B-2 selaku ketua Klub Teater.
     “Dia kakak-ku, kelas 11 A-5, dia pasti bisa membantu kita menemukan ‘Gaun sang putri’ yang hilang, walaupun dia terlihat seperti lelaki tak ber-otak,tapi dia jenius lho..”ujar Riana dengan gayanya yang tomboy.
     “hei hei..”Fian melirik Riana.
     “baiklah..mohon bantuanya, gaun itu sangat penting untuk pementasan besok” ujar Aisyah pada Fian.
     “aah...tapi aku tidak yakin bisa menemukan gaun itu.” Fian menggaruk kepalanya yang berambut cukup lebat untuk laki-laki.
     “kami ingin kau menemukan siapa Pencurinya..!”kata Fitria salah seorang anggota Klub.
     “pencuri? Jadi maksudmu, gaun itu di curi?”
    “iya..”Aisyah menunjukan bagian dalam ruangan, Fian terpaksa masuk dan melihat lihat. Terlihat banyak properti untuk drama, sebuah lemari penuh sapu dan sebuah meja berbentuk bundar dikelilingi 5 kursi, dan terdapat tumpahan bedak berwarna putih berceceran di lantai.
      “oh..itu aku tadi tidak sengaja menumpahkan bedak untuk tata-rias di lantai, aku akan mengambil sapu..”kata Tifani gadis berkacamata.
     “jangan..! biarkan tempat ini tetap seperti semula !,jangan sentuh apapun !”sentak Fian mulai serius menyelidiki. “dimana letak Gaun itu awalnya?”
     “di situ.”Fitria menunjuk meja berbentuk bundar di kelilingi 5 kursi.
    “baiklah, sekarang siapa sajakah yang berada di ruangan ini berurutan seiring waktu..?”kata Fian.
    “pukul 10 kami semua anggota klub Teater membahas propeti di ruangan ini, lalu kami keluar untuk membeli makanan, sementara yang tinggal di sini yaitu Tifani dan Fitria.”ujar Aisyah.
     “aku pergi ke toilet karena mendadak perutku sakit, jadi aku meninggalkan Tifani sendirian.”kata fitria.
     “lalu bagaimana denganmu?”tanya Fian pada Tifani.
     “benar, aku sendiri di ruangan ini saat itu, aku tidak sengaja menyengol bedak yang ada diatas meja,sehingga terjatuh ke lantai dan berceceran, kemudian aku keluar mengambil kuas untuk memungutinya, setelah aku kembali, sudah ada Fitria dan mas-OB di pintu, saat itulah kami menyadari bahwa Gaun untuk pemeran ‘sang putri’ telah hilang.”
       “lalu mas..?”dia lanjut bertanya ke seorang OB yang juga ada di ruangan.
       “iya, saya tadi masuk untuk mengambil sapu.”
       “tunggu...,sapu?”
       “iya, sapu, kain pel dan alat kebersihan disimpan di ruangan teater ini, di lemari itu.” dia menunjukan lemari. “saat aku masuk, bedak sudah tercecer dan tak ada gaun diatas meja, tapi sebelum aku masuk aku sempat menyirami bunga di depan ruang ini, dan aku melihat tiga anak ini bergantian memasuki Ruangan ini.”
      Fian mengamati tiga anak berseragam lengkap, mereka yaitu Zaen ketua kelas 11 B-2, gadis berambut panjang bernama Rena siswa kelas 10-1, dan terakhir anak laki laki kurus bernama Yoga kelas 10-2.
     “kenapa kau masuk ruangan Teater?”tanya Fian pada Rena.
     “aku meminjam sapu, dan ini aku mau mengembalikanya.” dia menunjukan sapu di tanganya.
     “lalu kau?” dia menunjuk Yoga.
     “aku habis mengembalikan sapu ke dalam Ruangan, kebetulan hari ini aku piket, dan kelas kehabisan sapu, benarkan Riana?”
     “Iya kak, kebetulan kami sekelas di kelas 10-2.” Kata Riana.
     “yang terakhir kau Zaen.” Zaen adalah teman lama Fian di kelas 10.
     “sama seperti dia, pagi tadi kelasku meminjam sapu dari ruangan ini, kemudian pukul setengah sebelas-an aku mengembalikanya ke sini. aku sama sekali tak melihat gaun itu di  meja.”kata anak lelaki bertubuh jangkung itu.
     “beri aku waktu sebentar untuk mengamati meja itu.”kata Fian.
     “silahkan, tapi gaun itu tak mungkin ada di situ..” sahut Aisyah.
     “aku bukan mencari gaun itu di meja itu, tapi aku mencari petunjuk.”
     Fian mulai mendekati meja berbentuk lingkaran itu. Dia menunduk dan mengamati lantai, dia hanya melihat, namun tak menyentuh benda apapun disana.
     “bagaimana kak? Kau temukan petunjuknya?”kata Riana di belakang Fian.
     “Andre..coba katakan padaku, apa saja yang kau lihat?”kata Fian pada Riana, Fian biasa memanggil adiknya dengan nama Andre karena Riana bersikap seperti laki-laki.
    “mejanya bundar, ada lima kursi mengelilingi meja, ada tumpahan bedak di dekat salah satu kursi.”
     “ya benar, dengan begitu kita bisa mengetahui siapa pelakunya”
     “hah? Bagaimana bisa?”
     “lihat lah..”Fian menunjukan salah satu kursi dekat tumpahan bedak. “ada garis miring panjang di tumpahan bedak yang berasal dari kaki kursi, semua kursi tertata rapi, namun hanya kursi ini yang sedikit miring, kursi ini menghadap Barat tapi sedikit miring ke arah Utara, sialnya di tumpahan bedak ini juga ada banyak bekas jejak sepatu yang tidak jelas bentuknya, kemungkinan mereka menginjak-injak tumpahan bedak saat mencari gaun.”
     “aku masih tidak mengerti.”ujar Riana memiringkan kepalanya.
     “sudahlah, ikuti aku..”Fian dan Riana keluar ruangan dan menemui teman-temanya yang menunggu di depan ruangan.
      “bagaimana? Sudah kau temukan petunjuknya?”Fitria bertanya.
      “sudah, tapi petunjuknya tidak cukup untuk membuktikan siapa pelakunya.”jawab Fian.
      “apa mungkin pelakunya salah satu dari kalian berdua” kata Yani salah seorang anggota klub teater menunjuk Tifani dan Fitria.
     “apa..?! yang benar saja, aku ke kamar mandi, dan pulang-pulang gaun itu sudah tidak ada.”sentak Fitria.
     “bisa saja kau Tifani, bukankah kau satu satunya orang yang berada di ruangan ini ketika kami pergi.”
     “aku berani bersumpah, aku tak mencurinya, buat apa coba?kan bisa saja anak anak yang masuk sini mengambil sapu tadi..”Tifani menyangkal.
     “sudah sudah..! cukup jangan saling menuduh, kita tak bisa menuduh orang tanpa bukti. Begini saja, emh...sekarang jam berapa?”kata Fian.
    semua anak melihat jamnya masing masing. “jam 11:20”kata Fitria melihat jam di ponselnya.
    “di jam ku menunjukan pukul 11:27, lebih cepat 7 menit memang.” Kata Yoga melihat jam tangan yang ada di tangan kananya.
     “jam 11:20” ujar Zaen memperlihatkan ponsel di tangan kananya.
     “ponselku menunjukan pukul 11:22”sahut Aisyah sambil memasukan ponselnya ke saku kirinya.yang lainya kebanyakan sama dengan jam Fitria.
     “ngomong ngomong kenapa kalian semua membawa tas kalian?”tanya Fian.
     “kelas kami semua sedang dibersihkan untuk acara besok, makanya kami membawa tas kami”ujar Tifani.
     “baiklah kalau begitu, tak ada waktu lagi, karena ini hari jumat, sebentar lagi siswa laki -laki muslim harus sholat jumat, aku akan melakukan tes kepada kalian semua.yaitu tes lari.”
     “apa?!tes lari?! Jangan bercanda kau!”ujar Aisyah.
      “iya, benar, untuk apa lari segala?kita mencari pencuri kan?”sahut Zaen.
      “sudah turuti saja, tak ada waktu lagi” akhirnya mereka menuruti perkataan Fian, mereka lari satu persatu dengan jarak 20 meter, tak terkecuali adiknya sendiri dan OB.
      “bagaimana?”tanya Aisyah.
      “uh..aku belum tahu siapa pelakunya, atau mungkin pelakunya memang tidak ada diantara kita.”jawab Fian.
      “apa..!?hei ayolah, jangan bermain-main, apa mungkin kau ini memang bodoh dan tidak tahu siapa pelakunya?”Aisyah mulai marah.
      “aku bilang aku belum mengetahui siapa pelakunya disini, mungkin pelakunya tidak ada diantara kita. Begini saja, sekarang kau beritahu wakil kepala sekolah masalah kehilangan ini, biar nanti diumumkan bagi siapa yang menemukanya. Aku berani jamin pasti ditemukan sebelum selesai sholat jumat, dan jika tidak, aku yang bertanggung jawab” Fian menegaskan.
      Dengan begitu, semua bubar. Aisyah ditemani beberapa temanya pergi ke wakil kepala sekolah untuk melapor, sementara yang lainya pergi kembali ke kelasnya.
      “tunggu kak, sebenarnya kau berbohongkan soal kau tidak tahu siapa pelakunya?, dan lagi pula, ini jalan menuju kelasku, kelasmu kan disana!”ujar Riana yang kakaknya berjalan di sampingnya.
      “ndre..aku bertanya, apa saja jadwal pelajaranmu hari ini.?”
      “karena hari ini jumat, kelasku hanya punya dua mata pelajaran, yaitu Seni dan PKN, jam selebihnya di gunakan untuk bersih bersih.”
      “apakah dua pelajaran itu membuat bawaanmu berat?”
     “tidak, lihatlah ! tasku sangat ringan, hanya membawa dua buku tulis untuk PKN dan satu buku gambar untuk Seni, lagi pula hari jumat tak ada ekstra kurikuler apapun, tentu bawaanku tidak berat.”
     “itu dia...”
     “kenapa?”sahut Riana.
     “kita akan menemui sang pelaku.” Fian mempercepat langkah kakinya, Riana mengikuti di belakangnya. Mereka mendekati seseorang dari arah belakang, dan menepuk pundaknya.
     “apa..?! Yo..Yoga..?”ujar Riana, melihat kakaknya menangkap Yoga. “tapi kenapa?”
     Mereka bertiga berhenti, kebetulan jalan menuju kelas sudah sepi, tak ada murid lalu lalang. “kau ingat posisi kursi di meja bundar itu? Kau ingat bekas kaki kursi yang didorong di tumpahan bedak?”
     “iya, kenapa dengan itu semua, bukankah itu semua tak ada hubunganya dengan Yoga?”
     “pada tumpahan bedak itu, ada garis sepanjang 20 centimeter miring ke kanan, dan garis itu dibuat oleh kaki kursi yang didorong, hanya kaki kursi bagian kiri yang menimbulkan garis,dan kursi miring menghadap kanan. Artinya seseorang telah memiringkan badan sebelah kirinya dan menjulurkan tangan kirinya untuk mengambil gaun, sehingga kursi didepanya terdorong dan miring kearah kanan, bisa disimpulkan si pelaku adalah kidal, dan hanya ada dua orang yang kidal di antara kita tadi, yaitu Aisyah dan Yoga..!”
     “bagaimana kau bisa tahu Yoga dan Aisyah kidal?”tanya Riana.
     “Yoga memakai jam di tangan kanan kan? Orang biasa memakai jam di tangan kiri, sedangkan orang kidal memakai jam ditangan kanan. Dan Aisyah dia mengambil, memegang, dan menaruh ponselnya dengan tangan kiri, tapi Aisyah punya alibi, dia berada di kantin bersama teman-temanya saat kejadian, jadi...sisanya tinggal kau Yoga..!”
     Yoga terdiam, wajahnya memerah penuh kekhawatiran.
     “tapi karena Yoga kidal bukan berarti dia pelakunya bukan?”kata Riana meyahut.
     “kau kira untuk apa aku melakukan tes lari pada semua anak yang membawa tasnya? Itu hanya untuk memastikan bahwa ada tidaknya gaun itu di dalam tas mereka, makanya aku tadi bertanya soal jadwal padamu, seharusnya buku dan barang bawaanmu sangat sedikit, tapi lihat, tas yoga terlihat begitu besar dan penuh, lalu saat dia berlari, tasnya terangkat angkat dengan mudah dan ringan, artinya tas yoga terisi barang yang ringan tapi memakan tempat. Jika dugaanku benar maka gaun itu ada di dalam tasnya yoga sekarang. Dan perkara bedak, pasti bedak yang menempel dibawah sepatunya sudah hilang saat dia menginjak rumput berembun di sana tadi.” Fian dengan lengkap mengutarakan deduksinya.
     “tapi kenapa?”sahut Riana.
     “aku tidak akan bertanya kenapa, aku hanya ingin kau mengembalikan gaun itu ke klub Teater.”ujar Fian.
     Yoga tak menjawab sepatah katapun, dia tak bisa mengelak bukti itu, dia membuka tasnya, terlihat sebuah gaun berwarna putih dengan motif berwarna emas yang indah. “maafkan aku, aku hanya disuruh, aku bersumpah. Tolong jangan laporkan aku kak, kumohon..”kata Yoga memohon, mata Yoga mulai memerah dan berair.
     “sudah sudah..tenanglah, kau kira untuk apa aku menemuimu disini, sebenarnya aku sudah tahu kau pelakunya di sana, tapi jika kuutarakan pasti mereka akan menghajarmu dan tidak akan memaafkanmu, maka dari itu, kau kembalikan saja diam diam gaun itu, atau taruhlah di tempat yang banyak siswa lewat, aku yakin akan ada yang menemukan dan membawanya ke wakil kepala sekolah.”Fian menenangkan.
     “baik kak..aku akan melakukan seperti apa yang kau katakan, terimakasih kak..”ujar Yoga.
     “sudahlah Yog...tenang saja, kami tak akan mengadukanmu, akukan sekelas denganmu, dan aku tahu kau sebenarnya anak yang baik.”ujar Riana.
     “terimakasih Riana.”mereka pun pergi meninggalkan Yoga.
     “kau benar benar hebat kak..tak kusangka kakak yang kukira tidak berguna ini ternyata bijaksana juga..”ujar Riana.
     “sudahlah, aku hanya tak ingin ada yang sakit hati dan dirugikan, jika saja aku menuduhnya di depan yang lain, pasti dia menyimpan dendam dan akan berbuat hal buruk lagi.”
     “tapi kak, aku masih heran kenapa dia melakukanya? Dia bilang disuruh, tapi oleh siapa?”
     “aku sudah tahu siapa yang menyuruhnya, dia adalah temanku dulu, namanya Devi, dia kakanya Yoga, kau mengenalnya kan?, dulu dia ikut klub Sastra dan klub Teater.”
     “iya benar, beberapa hari yang lalu kak Devi memberikan naskah drama yang ia tulis kepada kak Aisyah, naskahnya tentang wanita melawan penyihir, tapi Yunita temanku juga mengajukan naskah dramanya yang berkisah tentang kisah cinta seorang putri dan pangeran”
      “sudah kuduga, pasti Devi merasa sakit hati ketika mengetahui bukan naskahnya yang digunakan untuk Drama, dia merasa naskahnya ditolak secara tidak langsung, dia juga merasa iri. Akhirnya dia menyuruh adiknya membalaskan sakit hatinya dengan menyuruh adiknya mencuri gaun yang digunakan untuk pentas drama.”
     “kurasa kak Devi salah paham, Kak Aisyah tidak menolak naskah kak Devi ataupun naskah Yunita, tapi dia menggabungkan keduanya, dalam drama akan ada tokoh putri dan pangeran melawan seorang penyihir.”
     “jadi begitu ya? Akhirnya, semua senangkan?”sahut Fian.
     “tapi kak? Dari mana kau tahu Yoga adiknya kak Devi?”
     “mereka sangat mirip, lagi pula dulu di kelas 10, aku pernah melihat Devi mengisi biodata, dan aku melihat dia menulis nama anggota keluarga termasuk adiknya, tertulis Yoga Widyanto.”
     Fian dan kawan kawanya pergi ke masjid sekolah untuk melaksanakan sholat jum’at. Seusai sholat jumat, Klub Teater berhasil mendapatkan gaunya kembali. Seorang siswa menemukanya di depan pos satpam dan menyerahkanya ke wakil kepala sekolah.
      “sepertinya Yoga melakukan apa yang kukatakan dengan baik.”kata Fian dan Riana yang sedang berjalan pulang menuju rumah.
     “kan sudah ku bilang, dia itu sebenarnya anak yang baik.”
     Keesokan harinya, mereka akan merayakan hari ulang tahun sekolah, semua lomba dan kegiatan berjalan dengan lancar dan meriah, termasuk pentas drama klub Teater, kisah seperti yang dikatakan Riana, Aisyah menggabungkan cerita Yunita dan Devi, Devi yang melihatnya juga ikut senang dan menyesal telah melakukan hal yang buruk.
      Tapi ada hal yang membuat Fian kaget saat menyaksikan pertunjukan Drama, “Hah..!!Ri...Riana jadi Pangeran?!” ujar Fian kaget.
     “siapa Riana?”kata Teman Fian yang duduk disebelah.
     “Dia adik perempuanku.”
     “pe..perempuan?oh iya ya, adikmu si cewek tomboy itu kan?”. Mungkin klub Teater menjadikan Riana Pangeran karena Riana yang bertingkah dan bersikap seperti laki-laki, atau juga mungkin karena Klub Teater tak memiliki anggota laki-laki untuk memerankan sang Pangeran.


Minta Koreksi dan komentarnya gan.
Catatan: Boleh Copas, tapi DILARANG mengubah hak cipta.

Tuesday, June 17, 2014

Classroom Story #2 (Cerpen)



Classroom Strory#2
Detik Detik Menjelang UNAS.
Cerita ini terinspirasi dari kenangan masa masa SMP di MTsN TUREN bersama anak anak kelas 9A
(buat yang namanya ada disini,jangan marah ya,cuman bercanda kok hehe,buat yang namanya gak ada,maaf ya gak sempet ketulis,tapi nama kalian tetap ada di kenengan ku)

Penulis:Aliffiandika
Some story in the below was Based on True Story.


     Kenalin,nama gue bukan Erik,temen temen biasa manggil gue Fian,padahal nama gue Dika,tapi guru gue manggil gue Alif,terus siapasih nama gue sebenernya?..ah gak penting.  ini adalah Kisah masa masa SMP gue ketika mendekati UNAS (Utek paNAS).Kisah ini dimulai....ketika Negara api menyerang...hanya Avatar yang bisa menghentikanya.bentar bentar kok gue malah cerita Doraemon sih..?
     Banyak orang orang yang nyebut cara bercanda gue bikin orang epilepsi,But...Trust me,di kelas gue semua anak punya gaya bercanda yang jauh lebih mengerikan dari gue.gue dulu masuk kelas 9A.dan karena kelas gue yang terkenal dengan cara bercandanya yang bisa menyebabkan kejang kejang,para guru yang mengajar kelas kami telah dilatih di pelatihan militer sebelumnya,mereka mengambil pengalaman dari walikelas yang dulu,walikelas kami yang dulu terpaksa digantikan,bukan apa apasih,emang dia waktunya pensiun.
    Gue ditemani 6 sahabat setia gue yang ngebikin masa masa menjelang UNAS jadi lebih menyenangkan,gue sendiri gak pernah nganggep mereka sahabat,tapi gue nganggep mereka saudara gue.
     Yang pertama namanya Peppy,dia adalah temen gue yang paling konyol, paling gak nyambung dan paling Gak Jelas.dia tuh suka gak nyambung bercandanya,ibaratnya gue tanya “Pep...jika satu buah lampu memiliki tegangan sebesar 29 volt dan panjang kabel serta kumparanya adalah 7,9 meter serta memiliki hambatan sebesar 34 ohm,maka berapakah kuat arus yang mengalir..?”dan dia pasti bakalan jawab kayak gini. “prabowo subianto adalah anak ke 4 dari 2 bersaudara,jadi subianto termasuk mahluk bertulang belakang”.gak nyambung banget kan.
     Yang kedua namanya Jinov,dia saudaranya si Peppy,walau dia tidak segaknyambung peppy tapi terkadang cara bercandanya bikin orang pada kesel,dia suka mutus cerita ditengah jalan,suatu saat dia pernah cerita sama gue dan temen temen lainya. “eh guy’s kemarin tuh,kan gue nganterin adek gue kerumah temenya tuh....”dia berhenti sejenak dengan nada seolah olah akan ada sambunganya.
     Kami pun menunggu dan memperhatikan,menunggu sambungan cerita tadi,setelah beberapa lama kemudian dia tetap gak nyambungin cerita. “lhoh....ayo terusin ceritanya...kita nungguin..”kata Arip.
     “udah...gitu aja”jawabnya.
     Yang ketiga namanya Arief,sering dipanggil Arip. dia rajanya komedi di kelas,kalo gak ada dia kelas bakalan sepi kayak Pasar, iya pasar abis digusur pemerintah.kalo dia lagi ngelucu lebih baik lo pergi yang jauh,karena kalo ketawa denger lawakanya bisa bikin usus pindah dengkul,paru paru di bokong,kaki di kepala kepala di kaki.
     Yang ke empat namanya Aryo,dia yang paling kelihatan normal diantara kami,tapi dia punya kebiasaan kebiasaan aneh,dia sering pura pura gagap pas bicara,dan yang yang paling konyol dia suka pura pura mati,jadi pernah suatu saat dia ditilang polisi, “kamu..!mana Sim dan STNK mu?”tanya polisi.
     “ah..emm..anu”dia pura pura amnesia, dan selanjutnya “aaaahh.!!arghhh...”dia kejang kejang dan pura pura mati sambil ngeluarin busa di mulut.kalo pas pelajaran juga gak jauh beda,kalo pas ditanya sama guru dan gak bisa njawab dia juga akan pura pura mati.
     Yang trakhir Ricki sama Adhif,banyak yang nyangka mereka gak kembar,padahal emang bener.walaupun mereka kelihatan beda tapi sebenarnya mereka sangat gak mirip,dan gue gak tau kenapa gue bicara soal kembar gak kembar.
     Hari itu adalah pelajaran P.Rofiq,dia adalah guru mata pelajaran agama,tepatnya ilmu Fiqih.dia suka membuat analogi analogi yang tidak masuk akal,contohnya dia pernah nerangin tentang najis ringan. “Najis ringan itu contohnya kamu kejatuhan kotoran cicak,tapi ada juga najis ringan yang besar.”
     “lhoh...Najis yang kayak gimana tuh pak.?”tanya temen gue.
     “contohnya kamu kejatuhan kotoran cicak satu trek.”ngapain coba’?..
     Karena bosan mendengarkan analogi ngaco dari Pak Rofiq,gue dan temen temen lebih memilih  untuk tidur di bawah meja,kebetulan kolong meja kelas gue gak terlalu sempit dan gak kelihatan dari meja guru.gue dan 6 temen gue tiduran di bawah.
     Tapi tak diduga duga,temen temen yang lain juga mulai bosan dan memilih tiduran di bawah meja kayak kami.hingga dari 32 murid hanya tersisa 18 murid yang memperhatikan pelajaran.melihat hal itu P.Rofiq sangat kaget,heboh ,dan panik sambil joget poco-poco di atas meja,dan pastinya membuat kesimpulan kesimpulan ngaconya, “hah..?!!kemana murid muridku?!!kenapa mereka tiba tiba lenyap?!apa ini tanda tanda kiamat?apa alam mulai bosan dengan tingkah laku kita?apa dajjal akan keluar?apa Prabowo sudah disunat?ada apa ini?tidaaakkkk..?!!!!”dia njerit histeris kayak cewek dirambatin cicak.
     Setelah jam pelajaran berganti,gue sama temen temen kembali duduk normal,P.Rofiq entah pergi kemana mungkin dia sedang melapor ke pengadilan tinggi,atau pengadilan agama tentang kasus lenyapnya murid secara tiba tiba(yang sejatinya cuman tiduran dibawah meja)
      “kasihan ya P.Rofiq,seminggu yang lalu gue lihat dia pas lewat suatu jalan...”kata Jinov.
      “hah..kenapa ..?”
      “gak kenapa-napa...”jawabnya ngeselin,mendengar hal itu Ricki langsung melakukan Harakiri(bunuh diri secara terhormat ala samurai).karena lawakanya yang nyebelin itu dan membuat orang frustasi dan bunuh diri,anak sekelas yang aslinya 40 jadi tinggal 32,bukan apa apa sih,soalnya yang delapan gak pernah lahir jadi gak gue itung.
      Jam berikutnya adalah pelajaran Fisika,oleh P.yayat.namanya Muhammad Ali,tapi dipanggil Yayat,aneh emang.pelajaranya sangat lama dan menjenuhkan,jadi pas pelajaran gue sama peppy sering melamun melihat keluar jendela.
     “Eh Peppy...ngapain kamu glamun aja??!!”sentak Pak Yayat.
     “oh..anu pak,saya lagi nglamun,mikirin gimana jika saya ngelamun pas pelajaran pak Yayat ini..dan respon bapak pasti sangat bangga.”ujar si Peppy ngawur,mendengar hal itu dia langsung dikasih nilai sikap C.
      “kamu juga Lif,ngapain ngelamun...?!”dia sekarang nanya ke gue,tapi gue udah punya inisiatif biar gak dapet nilai C kayak si Peppy,karena ini pelajaran IPA jadi gue kasih penjelasan Ilmiah.
      “oh...itu..soalnya saat manusia fokus dengan logikanya,maka otak kiri akan mengalami kelebihan beban sementara otak bagian kanan lebih menganggur,dan tahukah bapak bahwa kedua bagian otak itu mempunyai kecenderungan menyeimbangkan diri,otak kanan menyeimbangkan diri dengan cara Melamun,harusnya anda tahu dong,gimanasih anda...Mikir..!!”.besok paginya gue liat nilai gue dapat D.melihat nilai yang kayak gitu si Ricki langsung melakukan Harakiri(loh kok Ricki lagi yang Harakiri?gak tahu mungkin dia emang suka,gara gara keseringan nonton film Samurai).
     Kalo di Masjid SMP gue,guru yang paling diwaspadai murid adalah,emm...gue sebutin insialnya aja ya,gue takut soalnya,nama depanya Al,nama belakangnya Pin,ya...benar, ALPAN.
     Pak Alpan badanya guedue banget,tingginya 187 m....(tunggu kok 187 M ,ini cerita SMP apa Attack on Titan sih?)maaf,salah ketik,maksudnya 180 Cm.dia orang yang paling disiplin mengenai masjid,pernah suatu saat karena anak anak didalem masjid pada rame,dia ngegebrak pintu dari kaca sampai pecah,akibatnya dia dipanggil ke ruang kepala sekolah,dan sejak saat itu,hubungan bilateral Indonesia-Malaysia kian membaik......   Hah?
     Selain tiga guru di atas,ada satu guru lagi yang punya kebiasaan unik lain,namanya Bu Idah,bu Idah ini bisa dibilang seorang agamawan banget,kalo di agama budha ibaratnya dia itu kayak biksu yang menolak segala macam bentuk kenikmatan duniawi.pernah suatu saat dia nasehatin kami sekelas “ahhh sudahlah apa itu musik,televisi,internet,sudah kamu tinggalkan saja semua kesenangan yang bersifat duniawi itu,itu hanya Fatamorgana sudah...”
     Besok paginya gue dateng terlambat gak pake dasi dan baju gue combang camping gak disetrika,rambut gue acak acakan(jangan dibayangin).lalu si Bu Idah tanya ke Gue “nak...kamu mau dihukum...?”
     “hah?kenapa bu..?”tanya gue.
     “itu lihat,baju kamu gak karuan,gak pake dasi,muka lecek..”
     “ah ibu...itu Cuma Fatamorgana sudah....”.
     Akhrinya UNAS pun tiba,hari yang selama ini tidak kami tunggu tunggu akhrinya datang,semalam gue mimpi,gue mimpi bisa lulus tanpa mengikuti Ujian Nasional,iya,di dalem mimpi gue dikasih pertanyaan sama pak Yayat,dan karena gue bisa njawab dengan lancar gue dibebaskan dari UNAS. “Lif...bapak kasih pertanyaan,kalo bisa njawab,kamu gak usah ikut UNAS,langsung bapak lulusin dengan Nilai semau kamu..”kata dia(dalem mimpi).
     “ok pak...’
     “jika hukum Termodinamika empat berbanding lurus dengan hukum perbandingan masa,pada kala waktu 13.000.000 tahun awal terbentuknya jagad raya karena ledakan atom gas plasma raksaksa yang disebut hidrogen,maka berapa banyak planet di jagad raya jiga terdapat 9 planet tiap tata surya..?”gue gak bener bener ngerti apa yang dia omongin,tapi tetep gue jawab.
      “Wallahualam bisshawaf....hanya Tuhan yang tahu pak”jawab gue,sambil nunjuk jari keatas,dengan nada seperti seorang biksu nyampein ceramah di dhamma TV.  
      “ya..!!anda benar sekali,Hit the nail on the F*cking head..!!”kata dia ngaco(dalem mimpi).gue langsung dibangunin nyokap,gue lupa sekarang UNASnya,gue terlalu terbawa mimpi.
      Gue sama temen temen udah ada di sekolah,tinggal si Peppy,dia kayaknya telat karena bangun kepagian.ya karena dia bangun jam 2 pagi akhirnya dia tidur lagi,dan dia bangun jam 6.30.dari selatan sekolah dia datang sambil berlari,kalo di slowmotion,dia kayak atlet lari jarak jauh yang hampir nyampe finish sambil disetelin musik ‘weeee...are the champions My Frieeeenddss....weeeee’ll keep on fighting till..the endddd.’ .dan dia berlari layaknya pelari jarak jauh yang nyampe finish sambil nabrak tali pita di garis finish,tapi si Peppy bukan nabrak tali pita,tapi tali jemuran.tapi terlambat,nasi sudah menjadi lontong...(lhoh bukanya bubur?maaf tukang bubur sudah naik haji,adanya tukang lontong),satpam udah menutup pintu hatinya,eh maksudnya pintu gerbang.dia meronta ronta sambil memegang besi di gerbang,’brak brak...pak bukain tolong,tolong..!!kenapa ini harus terjadi padaku?dunia ini tidak adil....:” jeng jeng..bersambung(ala sinetron gak bermutu CSTV).dia terus meronta ronta,si satpam ngehampiri dia,karena kasihan dia bukain deh pintu hatinya,untuk membuka pintu gerbangnya.
     Kami udah ada di dalam masjid,kami melakukan sholat sunah berjamaah dan berdoa sebelum melakukan Ujian.sholatpun segera dimulai. “Eh..bentar,Lencang depan..grak.!...”kata Arip meluruskan shaf untuk sholat.Arip adalah anak yang terobsesi untuk menjadi anggota PASKIBRA.
     “eh lu kira mau upacara....”kata Jinov.Si arip emang berlebihan,waktu sholat,pas gerakan i’tidal,dia malah melakukan istirahat di tempat.dan juga,jika orang azdan pada umumnya tangan kanan nempel di kuping,tapi enggak dengan Arip,tangan kanan di dahi layaknya pemimpin upacara lagi hormat, ‘Lapor Imam..Sholat jamaah siap dilaksanakan’, ‘Kerjakan..!!’ujar si Imam, ‘siap..Laksanakan..!!!!!!!”. ‘loh kamu yang melaksanakan’, ‘siap....Laksanakan..!!’, ‘Loh...’.
     Selesai sholat,para murid yang akan menghadapi UNAS dua jam lagi dipersilahkan untuk berdo’a,semua anak pada umumnya berdo’a agar lulus,sukses,lancar ujianya,tapi ada juga yang aneh aneh,gue berdo’a supaya mimpi gue semalem jadi kenyataan,lulus tanpa tes,tapi ada yang lebih aneh aneh lagi contohnya ada anak yang berdo’a ‘Ya Tuhan..semoga nyonteknya lancar..’, ‘semoga diberi kemudahan dalam mencontek’, ‘semoga Pengawasnya kena Epilepsi biar gak njaga kelas’, ‘semoga durian di blakang rumah gue cepet mateng.’,‘semoga gue kesurupan arwahnya Einstein biar lancar mikirnya’kata arip,dan yang paling ekstrem si Peppy ‘Ya Tuhan..semoga ada Asteroid jatuh di sekolah ini,supaya UNAS ini di tunda..’.
     Masih didalem masjid,bu Kepala sekolah memberi pidatonya yang sangat tidak dinanti nanti,namanya Bu Hamidun,siapasih yang gak kenal dia,semua orang mulai dari Sabang sampai marauke,dari marauke sampai sebelahnya marauke,bahkan dari sebelahnya marauke ke yang bukan sebelahnya marauke,semua gak kenal dan gak kepingin kenal sama dia.
     Pidatonya sangat panjang,menjenuhkan dan tidak berarti.dari pidatonya udah kelihatan kalo dia suka nonton acara pidato gak penting di TV OEN,dan juga dia suka banget nonton konser Ariel NaOH.kalo pas konser Ariel lupa lirik,dia bakalan nyodorin microphonenya ke penonton supaya si penonton nerusin lagunya sambil ngomong ‘yang dibelakang sana..mana suaranya...?  Kalian luar biasaaa...’.
     Pas pidato di dalem masjid Bu Hamidun juga ngelakuin hal yang sama,di tengah pidato dia mulai glagepan dan mulai lupa teks pidatonya,dia langsung nyodorin microphonenya ke arah si Aryo yang duduk didepan sendiri “ayo nak...terusin pidato ibuk nak...ayo”.
     Karena si Aryo gak tahu harus jawab apa dan bingung mau jawab apa,akhirnya dia lebih memilih untuk pura pura mati, “hah?..ehmm...Aaahh..!!...Argghh..”dia kejang kejang didalem masjid.
      Kemudian tidak berhenti disitu,Bu Hamidun melempar pidatonya ke murid yang duduk di masjid bagian luar “yang di luarsana..mana pidatonya....?..kalian biasa di luar...”
     Akhirnya setelah satu jam,Bu Hamidun mengakhiri pidato yang sama sekali tidak penting itu.UNAS pun segera di mulai,para murid di Masjid segera menuju Ruang Ujian masing masing.
      UNAS pun dimulai,tak ada kejadian aneh,tak ada pengawas Epilepsi,tak ada anak kesurupan,dan yang pasti gak ada Asteroid jatuh di kelas,tapi semua dapat ngerjakan soal dengan tenang dan tanpa contekan,soalnya ternyata pada tahun itu UNAS dengan 20 paket soal berbeda,dan tiap kelas Cuma ada 20 anak,jadi gak akan ada yang bisa contekan.tapi gue lihat di bawah meja si Arip ada kemenyan sama dupa dibakar,rupanya dia tidak menyerah dan berharap dirinya kerasukan arwahnya Albert Einstein.
     Do’a yang aneh aneh temen-temen gak ada yang terkabul,tapi semua dapat mengerjakan dengan lancar,dan beberapa bulan kemudian hasil UNASpun keluar,semua siswa lulus dengan nilai yang layak dengan kerja keras mereka masing masing,semua ini juga tak luput dari Do’a guru yang terkabul,mereka guru guru yang hebat dan inspiratif buat gue,mereka gak seperti guru guru yang lain disekolah lain,mereka punya gaya dan cara mengajar yang terkesan unik dan semaunya sendiri,tapi itu adalah cara mereka sendiri untuk mendidik siswa,mereka adalah guru yang akan gue kenang selamanya.
     Gue pun lulus dan berpisah dengan 26 sahabat dan 6 orang saudara sekelas gue,yaitu Peppy,Arip,Jinov,Aryo,Ricki,dan Adhif.gue harap setelah lulus ini si Peppy bakalan lebih nyambung dikit kalo diajak ngobrol,si Jinov juga gue harab gak mutus cerita ditengah jalan,Si Arip gue harap dia kesampean jadi anggota PASKIBRA,Si Aryo gue harap gak lagi pura pura mati pas ditilang,pura pura gila kek biar kerenan dikit,gue harap si Ricki udah gak ngelakuin Harakiri lagi,dan untuk Adhif gue harap dia gak lagi gak dianggap gak kembar sama Ricki,dan gue harap kami bisa ketemu lagi suatu saat,dan gue harap gue bisa ketemu temen temen kayak mereka di SMA nanti.
     Merekalah yang mengisi tiga tahun masa SMP gue,dan itu menjadi salah satu dari bagian manis kenangan hidup gue.
 1 bulan kemudian...Gue masuk di SMA 6 MALANG

Kata - Kata Kasar (The Tabooness of Profanity)

"Kok kamu ngomong kasar kayak gitu sih?" "Jaga dong mulutmu!" "Kok kowe misuhan seh?" "Why do you cursed ...