Friday, September 11, 2020

Kata - Kata Kasar (The Tabooness of Profanity)


"Kok kamu ngomong kasar kayak gitu sih?"
"Jaga dong mulutmu!"
"Kok kowe misuhan seh?"
"Why do you cursed like that? I thought you're always a polite guy."

Shut yo ass up boi..

Goddamn..! first of all, Being Polite isn't a Personality! It's a Social Skill.
Secondly, using profanity Doesn't automatically make you a bad person.

ketiga, kenapa kalian sangat terobsesi dengan kata kata lembut? kenapa sebegitu khawatir kalau kosa kata akan menyakiti hati kalian? kenapa penggunaan kata kata kasar sebegitu tabunya.. kenapa kalian langsung menilai karakter seseorang cuma dari segi bahasanya? "Omonganya kasar, pasti orang nggak bener! salah pergaulan."


I beg your punten...

Hey... Koruptor koruptor bahasanya formal dan sopan lho inget? kasus kasus Penipuan yang pernah terjadi juga nggak pernah menggunakan kata kata kasar, mereka malah menggunakan bahasa formal yang bagus dan persuasif. kamu bisa aja ketemu pembunuh berantai yang fasih menggunakan krama inggil.

Dalam tulisan ini aku nggak bakal peduli soal penggunaan bahasaku, Fuck it..
Beside, I never use profanity to intentionally hurt anyones feeling, I only use it to emphasize the point of my opinion and my emotion.

Masyarakat terlalu fokus pada diksi atau pemilihan kosa kata dari pada memperhatikan kadar empati mereka. faktanya, Dimanapun kapanpun, orang orang menyakiti hati satu sama lain menggunakan bahasa yang baik, bahasa yang standard, bahasa yang baku.

Nggak percaya? coba sekarang ingat ingat hal hal menyakitkan dan menyinggung apa saja yang pernah dikatakan oleh seseorang padamu? I'm pretty sure they were spoken in proper standard regular daily language? Right? they didn't even use profanity!



Seolah menjadi hal yang biasa dalam masyarakat untuk mengucapkan sesuatu yang menyakiti perasaan orang lain, fine fine aja, selama nggak menggunakan kata kata kasar.

Normal banget denger orang ngomong hal kayak "Eh di foto kamu mesti pendek sendiri ya?" atau "Kok kamu bisa kerja di situ sih, punya orang dalam ya?." dan itu dianggap biasa biasa aja. tapi begitu denger "Anjing panas banget sih Surabaya...Cok rasane pingin mudo ae, asu asu.." pasti langsung dikomen "Mas mulutnya ya.." 



like... am I the only one who think this isn't right?


"Mulutmu penuh dusta tak bisa diam
Gemar ghibah, perilaku hina tiada padam
Hidup memakan tempat tiada segan
Napasmu menyianyiakan udara yang penuh kesegaran
selayaknya kamu memohon maaf pada pepohonan
suaramu menyiksa bagai nada tak beraturan
sepatutnya mohon ampun pada semua orang
yang pernah mendengarmu bergumam"

See, I can even insult you with a poem.

"Damn.. You look beautiful as fuck girl!
those bitches must be envy your look so bad.
You gotta be grateful for that, that's a fuckin' gift."

and give you a compliment with not so beautiful choice of words...

intinya apa sih nulis ginian?
Jangan mudah menilai seseorang karena pemilihan kata yang digunakan, dia bisa jadi penipu dengan bahasa sopan, atau orang baik dengan kata kata kasar.
kedua, hilangkan ketabuan akan kata kata kasar, dan fokus ke konteks pembicaraan
mari latih empati karena kita terbiasa menyakiti hati orang lain dengan bahasa yang baik dan benar.





Monday, September 2, 2019

Kalimat Nista #9

Yang hidup disudut langit Culas menatap tiada renjana Memandang wujud pahit Sirna seketika semua tawa Merangkul kebencian Mengutuk para insan Hidup mu Sekumpulan langkah yang salah Dirangkai sebagai cerita Pertunjukan dungu tiada suka Salah siapa

KAlimat Nista #8


Enyah dari hadapan Enyah dari pikiran Diri bukan konsultan Kau bukan juga sultan Lecuali dirimu berkenan Dengan masukan setan Alir kan memuakan Namun pikir kan terjelaskan Dihadapan pahit kehidupan Tak kemari tuk senyuman Ataupun hujatan Sekedar mengingatkan

Kalimat Nista #7


Setia bersamaku Lekat menemaniku Terimakah kau terimakasihku? Perlu kah ku mengutukmu? Siapa diriku tanpamu? Kau bagian jiwaku Oh wahai hantu Memori masa itu Penjara kesadaranku Datang bagai tamu Melekat bagai candu Akankah pamit berlalu?

Kalimat Nista #5


Menatap dari sisi lain dunia Mendengar dari sudut lain realita Merasa dengan lain indera Berfilsafat dijalan penuh tanya Berjalan ke lain arah Benci menjadi beda Tak ingin menjadi sama Hidup tanpa gairah Matipun kan terasa hampa

Kalimat Nista #4


Kalian mahluk rendah Hidup tanpa pikir maupun resah Kecuali perkara desah Terlena dunia lupa amanah Berjalan layaknya bedebah Matipun tanpa rasa bersalah Diri ini tak ingin sama Namun ingin kutikam keluarkan darah

Kalimat Nista #3


Mulutmu penuh Nista Tapi merasa paling dekat pada sang pencipta Bukankah ajaranya untuk cinta sesama manusia Kau berpijak di atas egomu semata

Kalimat Nista #2


Bait bait keluh perasaan Tak lain hanyalah terapi pikiran Kritik sosial tanpa saran Diri tak disini tuk penerimaan Tapi pencerahan kekelaman Atas kenyataan

Kalimat Nista #1


Kau panggil dirimu suci Hina saudara yang beda hati Napas tanpa drama terasa mati Nirwana bukan milikmu sendiri

Suku kata terbuka #1


Ketika kata kata tiada cerita Sanubari ini terasa mati Di hari dimana tiada pelita Raga ini menari nari Tetapi kala matahari tiba Diri ini mulai lari dari api

Tuesday, May 15, 2018

Kapolsek Rambut


Kapolsek


            “Hehhh Kamu!!”Teriakan melengking yang ganjil dan mengerikan menusuk telinga Mahasiswa gondrong, sebuah gunting rambut melesat melewati kepala gue. Sebuah Teror di perkuliahan. Semua berawal Satu dekade yang lalu.

            Dari SD gue pengen banget punya rambut gondrong walau gue cowok, karena pikir gue pas SD keren aja gitu. cowok rambut gondrong bukan berarti feminim, justru kalo diinget inget, secara zoologis, Singa cowok memiliki rambut kepala yang panjang, sementara singa Cewek enggak. Mungkin karena hasil seleksi alam, Singa cowok gondrong telihat mengintimidasi dan seolah lambang kewibawaan. Sedangkan pada manusia malah dibalik, (ya iyalah, manusia ya manusia.. hewan ya hewan.) eits..! tunggu dulu nying! Secara biologis rambut manusia baik cewek maupun cowok keduanya mampu tumbuh hingga hampir mencapai satu meter, tumbuh secara kontinyu. Jadi memotongnya pendek sebenernya melawan kodrat biologis Homo sapiens. Lalu dari mana asalnya peraturan atau norma tak tertulis yang mengatakan seharusnya cowok itu berambut pendek, jawabanya adalah Sosial!, entah sejak kapan tapi pendapat pribadi yang serupa kian berkembang hingga akhirnya menjadi semacam standard, yang kalau dipikir pikir secara kritis alasanya sangat nggak logis, sangat subjektif.

            Keinginan gue buat Gondrong terlahang sejak SD sampai SMA, karena adanya peraturan ‘retarded’ soal kerapian, bla...bla...bla, gue gak bakal bahas peraturan Sekolah yang kayak gitu disini (karena udah pernah gw tulis).

            “Mantap, setelah lulus akhirnya gue bisa gondrong!” ujar gue ketemen gue pas lulus SMA. Namun mimpi itu hancur ketika gue masuk jurusan Teknik Kimia di Politeknik Negeri Wakanda (tempat gue samarin biar gak kena masalah).

            Pagi itu gue dan temen gue lagi jalan santai di Lorong Gedung jurusan sambil Ngupil. Tiba tiba terdengar Suara Mengerikan “Hehhh Kamu!!”sentakan seorang wanita yang seolah gelombang suaranya menimbulkan Gelombang kejut yang mampu menghempaskan semua molekul Oksigen Diudara dan menguraikan semua kandungan air di udara menjadi atom Oksigen dan hidrogen secara terpisah. Membuat kami sesak nafas dan mulut kering, bibir pecah pecah, sariawan, tenggorokan panas, perut kembung, susah kentut, dll. Perlahan gue menoleh ke sumber suara. Bu Mariam (namanya gue samarin).

            Orangnya nunjuk gue, gue noleh ke temen gue yang botak. Temen botak noleh ke gue.
            “Iya Kamu! Yang gondrong!”ujar Bu Mariam. Gue ambil pengaris dan ngukur panjang rambut gue, yang ternyata panjangnya nggak sampai 20 cm, wajar aja gue nggak ngerasa gondrong. Gue noleh lagi ke orang orang disekitar, siapa tahu bu Mariam nunjuk orang lain.

            Pas gue noleh lagi ke depan Seketika Bu Mariam berada pas di depan muka gue, padahal tempatnya berdiri tadi sekitar 10 meter jauhnya, saking cepetnya gerakan tiba tiba Bu Mariam, rambut temen gue hilang terhempas terkena angin, eh temen gue emang udah botak sih.

            “Ya Elu yang gue maksud, upil kuda!” ujar Bu Mariam sampil njambak rambut gue, mukanya serem, matanya Melotot udah kek mau berubah jadi Kyuubi. “Senin harus Udah potong!”

            “I..iya bu.”jawab gue tegar.

            “kalo masih gondrong, Nilai lu yang gue potong!”

            Sejenak gue sadar, ternyata itu cuman khayalan gue, percakapan dengan beliau berlangsung normal dan sedikit manusiawi, tapi tetep aja gue disuruh potong tambut.

            Bagi Mahasiswa biasa, Bu Mariam ini Dosen Killer, tapi bagi mahasiswa gondrong kayak gue, dia adalah Dosen Serial Killer, entah berapa rambut yang udah dia mutilasi.

            Gue heran dengan kuliahan gue, setelah lulus SMA, kebanyakan Universitas memperbolehkan Mahasiswa laki laki berambut panjang, tapi di kuliahan gue karena Politeknik, Kebanyakan Jurusan Melarang hal tersebut, walau beberapa ada yang memperbolehkan.

            Gue nggak langsung menentang aturan atau Fuck the Rule!, enggak, gue Cuma mempertanyakan sebuah peraturan sebelum mengikutinya. Oke lah di Jurusan Teknik Mesin atau Sipil, nggak boleh rambut panjang alasanya untuk Safety, bayangin pas lo praktek rambutlo masuk gir atau mesin gitu, Final Destination banget kan? Untuk alasan itu gue setuju banget. Tapi di Jurusan gue secara Spesifik, Teknik Kimia, alasanya apa coba? Masa alasan Safety? Praktikum di jurusan gue kebanyakan cuman mencet mencet Tombol sama ngaduk ngaduk larutan doang. Bahayanya ada sih, kena Larutan asam atau paling paling keracunan, tapi nggak ada yang berhubungan dengan panjang rambut. Nggak mungkin banget gitu ada kejadian, Mahasiswa Teknik Kimia pas mencoba memasukan larutan NaOH ke dalam Buret tiba tiba Rambutnya yang panjang secara tidak sengaja melilit di lehernya, mencekiknya hingga tewas, Sinetron Indosiarpun nggak sengawur itu kalo mau mbunuh tokoh cerita. Kalaupun Alasan Safety nih, baik cowok maupun Cewek keduanya harus berambut pendek, nggak beda bedain gender, emangnya bahaya kalo cowok kecelakaan kerja gara gara rambut tapi oke oke aja kalo cewek yang kena masalah gitu, NGGAK LOGIS.

            Argumentasimu tentang Safety Musnah coeg!. Akhirnya ada lagi alasan, Biar Rapih!. Rapi itu subjektifitas persepsi manusia yang relatif dan nggak bisa diukur dengan angka, standard sosial yang seolah berasal dari pemikiran masyarakat jahiliyah di mesopotamia kuno. Alasan kedua ini pun Sirna. #Tekkimgondrong2019.

            Ternyata nggak cuman gue yang punya pemikiran kayak gini, pas tingkat dua, gue ketemu temen temen lain yang sepemikiran dan ingin mengondrongkan rambutnya. Dimulailah pembentukan Aliansi, sebuah gerakan revolusi dari dunia bawah (apaan sih anying?). gerakan menentang penindasan hak berpenampilan. Buat cewek yang nggak ngerti perasaan kita kek gimana, coba bayangin lu dimarah marahin Cuma karena pake make up ke kampus, yang di make up muka lo tapi yang sewot dia, nggak ngerugiin siapapun, itu cara lo mengekspresikan dan memperindah diri tapi dihalang halangi orang yang sama sekali nggak punya hak buat ikut campur. Pengen bacok kan rasanya..

            Ternyata nggak cuman gue dan temen temen gue yang bikin Aliansi cowok gondrong. Dosen serial killer itupun juga demikian, men-brainwash Dosen lain hingga terbentuk kelompok Dosen anti Mahasiswa gondrong. Kami memanggil Bu Mariam sebagai Kapolsek, karena ia pentolan dari gerakan Dosen Radikal anti rambut tersebut, ada Satpol PP dan ada Polisi biasa sebagai anggotanya. Mereka bermarkas di lantai 3 Gedung ASu. 

            Dalam Semester ke 4 ini gue udah kena Tilang 5 kali (razia rambut).karena kelas gue pusat pergerakan Mahasiswa gondrong, pernah Bu Mariam mendatangi kelas gue, nggak masuk sih, Cuma ngliatin kami dari balik pintu sambil bawa gunting, senyum mengerikan dan tatapan mata yang bersinar dalam gelap, kek di anime anime yang karakternya psikopat gitu.

            Kami menyusun Strategi untuk menyelamatkan Rambut kami dari Terkaman sadis Dosen Serial Killer. Anti-Stalking, sebuah teknik yang mempelajari rutinitas seseoang kemudian digunakan untuk menghindari orang tersebut, kami hafal jadwal Bu Mariam mengajar dan dimana Lokasi dia mengajar, jadi kami menghindari tempat tempat angker tersebut. Membuat grub dimedia sosial bernama “Info Cegatan POLINEWA(Politeknik Negeri Wakanda..Hu Haa!).

            Kami juga mengadakan Survey Rutin, apakah kendaraan Kapolsek ada atau enggak di parkiran, kalau ada, berarti hari itu dia Masuk, sehingga kami dapat meningkatkan kewaspadaan ke level Siaga. Kami Masuk gedung ASu yang pada dasarnya wilayah kekuasaan para ‘Polisi rambut’ dengan sangat berhati hati, masuk gedung dengan mata was was, celingukan, langkah kaki perlahan, kayak Misi operasi penyergapan gitu.

            “Sector Clear!” ujar gue memasuki lantai satu yang masih aman aman saja.

            “Dik awas!” ujar Dito (nama samaran) teman gondrong gue, sebuah gunting Melayang melesat melewati kepala gue, beberapa helai rambut tersabet.

            “Nani??!!”

            “he ..he..”Tawa Kapolsek yang mengerikan terdengar dari ujung Lorong yang gelap dan sempit, sesaat terlihat kilatan Cahaya, dia melangkah maju dengan memutar mutar gunting di jarinya, berjalan perlahan seperti pinguin, memiringkan kepalanya dan tersenyum sambil melotot kearah kami.

            “Team Fall back!!!”ujar Hiro (nama samaran) temen gue. Pasukan Revolusioner terpaksa mundur, karena Kapolsek telah mengetahui rencana kami.
           



Friday, April 13, 2018

Mengomentari Fisik Orang Lain (Etis kah?)

Mengomentari Fisik Orang Lain



          Artikel Opini kali ini berjudul “Mengomentari Fisik Orang lain.” Tapi saya akan lebih berfokus kepada “Kenapa Orang Tersinggung saat dikomentari soal Fisik mereka?”.

          Sebenernya ini adalah hal yang sangat sangat sederhana dan sangat mudah dipahami, tapi juga Sangat sering tidak dipedulikan oleh orang kecuali saat mereka mengalami sendiri yang namanya dikomentari soal fisiknya.

          Sebelumnya saya mohon maaf karena saya akan memberikan beberapa contoh kasus yang mungkin tidak mengenakan bagi sebagian dari kita, dan saya tidak punya maksud untuk menyinggung siapapun. Hanya bertujuan untuk menjelaskan konsep ketersinggungan seseorang saat dikomentari seputar fisiknya, dan perlukah itu? (Tersinggung dan Mengomentari).

          Oke, contohnya pernah nggak sih denger atau bahkan mengalami dikomentari “hidungmu pesek ya? nggak kayak adikmu.” Dan “Eh kamu kok pendek sih?” atau “Kulitmu kok makin hitam?” dan juga “Kok kamu makin Gendut aja.” Atau “Lu cungkring banget kayak orang cacingan.” Atau “kalau dilihat lihat gigimu ada yang ompong ya?”Atau bahkan kalimatnya dibuat lebih pendek dengan tujuan yang jelas jelas untuk menyinggung, seperti “Dasar pendek.” Atau “heh item.” Atau “Eh Gendut” Dan faktanya semua hal yang disebutkan itu memang benar adanya.

          Lalu kenapa tersinggung? Atau kenapa orang tersebut tidak terima dikatakan begitu walau faktanya memang demikian?

          Ada yang mungkin pernah denger Quotes “jika dia tidak suka mendengar kebenaran yang kamu ucapkan, ia pasti hidup dalam kebohongan selama ini.” Nah, quotes itu ada benernya, TAPI khusus dalam masalah ini itu justru bertolak belakang. Apa menurut anda orang yang anda komentari soal warna kulit, tinggi badan atau berat badanya tidak sadar dengan realita bahwa memang mereka begitu adanya? Tentunya mereka sangat sangat sadar dan tidak membohongi diri sendiri, mereka secara harfiah melihat diri sendiri di depan kaca setiap hari. Nah lalu kenapa mereka marah atau tersinggung saat orang lain mengatakan fakta bahwa mereka seperti itu?

           Pertama, Mereka sangat sadar akan kekurangan fisik mereka, dan mereka tidak menyukainya, mereka bahkan mungkin membencinya. Dan anda secara sengaja mengingatkanya akan kenyataan ‘pahit’ tentang fisik mereka, yang pastinya akan membuat mereka merasa sedih, tidak enak dan bahkan secara langsung menurunkan rasa percaya diri mereka, pastinya hal itu membuat mereka marah karena anda telah menyinggung hal yang sensitive bagi mereka. Misalnnya nih, si A orangnya lebih pendek dari kebanyakan orang, saat kamu mengatakan “Kamu pendek banget ya.” Tentu saja si A selalu sadar bahwa dia lebih pendek dari pada kebanyakan orang, dan kondisi itu untuk si A adalah bagian dari dirinya yang tidak ia sukai, lalu apakah dengan menunjukan fakta tersebut pada si A akan membuatnya merasa lebih baik? Tentu tidak bukan, yang ada hanya akan memancing emosi.

          Kedua, Mereka sadar akan keadaan fisik mereka, mereka bahkan bangga dan menerimanya, tapi Komentar dan nada anda membuatnya terdengar seperti merendahkan. Contohnya saat kamu bertemu teman yang memiliki gaya rambut baru lalu bilang “Potongan rambutmu kok jadi gitu sih?” nah disitu si teman bakal mikir “Hah Emang kenapa?” si teman sedikit terganggu atau bahkan kesal bukan karena menyadari bahwa ia memiliki potongan rambut yang tidak biasa, tapi karena ucapan si teman yang membuat seolah olah gaya rambutnya adalah sesuatu yang rendahan.

          Nah saran saya buat diri sendiri dan teman teman yang mungkin biasa mengomentari fisik orang, lebih baik hindari atau bahkan hentikan perbuatan atau hobi mengomentari fisik orang lain, pertama karena memang itu tidak sopan, kedua “What is the point?” tujuanya buat apa sih? Menunjukan suatu fakta berupa kekurangan atau penampilan fisik pada orang yang sangat3 sadar akan fakta tersebut? yang ada hanya akan membuat orang tersebut terganggu. Dan terakhir cobalah melatih empati dan kebiasaan berpikir sebelum bicara, ‘Perlukah saya mengucapkan hal ini pada dia? Untuk apa?’ dan coba tempatkan diri anda di sudut pandang orang tersebut. ‘kalau saya ompong kira kira kalau dikatain ompong marah nggak ya?’.

          Selanjutnya, Saran buat teman teman yang mudah tersinggung saat fisiknya dikomentari. Jangan keburu marah saat teman anda mengomentari soal fisik mereka, pertama tanyakan motif mereka pada diri sendiri “apakah tujuan mereka untuk menyakiti saya” karena seringnya tidak, kebanyakan dari mereka tidak berniat untuk menyinggung anda, mereka hanya tidak sadar telah menyinggung anda, mungkin kapasitas teman anda dalam berempati hanya sebatas itu, anda harus memaklumi, jadi janganlah keburu menyimpulkan “kamu suka banget ya bikin orang kesal.”


          Semoga artikel opini ini bermanfaat bagi siapapun yang membaca ini. Tuhan menciptakan manusia dengan berbagai macam bentuk fisik, hargailah sesama ciptaan Tuhan.

Friday, March 30, 2018

Macam macam Introvert yang saya kenal.


(Source : Instagram @Introveart)
Introvert..
Introvert itu apa sih? Orang yang pendiam? Yang tertutup?
Apa semua Introvert seperti itu?
Apa semua orang pendiam itu sama dan sesimpel itu?
Well, banyak deskripsi dari berbagai sumber, mulai dari yang salah kaprah seperti menyamakan Introvert dengan antisosial, Pemalu, ada pula yang bilang mereka adalah orang yang berfokus pada dunia pemikiran mereka dari pada dunia luar, penyendiri, dll. dan menurut saya, deskripsi paling pas dan paling sederhana yang saya dapat dari berbagai sumber adalah:
Introvert adalah orang yang mendapatkan Energi dengan berada dalam kesendirian (Solitude), kebalikan dari Extrovert yang mendapatkan Energi dengan bersosialisasi. Yang dimaksud energi disini kurang lebih adalah keadaan dimana mood, pikiran dan tenaga fisik orang tersebut dalam keadaan yang baik atau optimal.

Analogi lainya misalnya Introvert adalah stick game atau game controller wire-less, yang artinya alat tersebut harus di isi ulang tenaganya sebelum dipakai untuk bermain. Sementara Extrovert itu seperti game controller berkabel, yang artiya alat tersebut mendapatkan energy saat bermain, selama kabelnya terhubung dengan sumber listrik.

Yah, simpelnya seperti itu, apakah kamu mengisi ulang tenagamu dengan memberi waktu untuk menyendiri sejenak, atau justru kamu mengisi ulang tenagamu dengan bersosialisasi.
Nah, sekarang balik lagi ke macam macam Introvert, introvert itu banyak sekali macamnya, sama halnya dengan extrovert. Namun masyarakat suka menyamaratakan dan membuat kesalahpahaman dengan menganggap semua introvert itu pemalu, membenci orang lain, atau bahkan antisosial (yang mana deskripsi antisosial sendiri bisa berlaku baik untuk introvert ataupun extrovert). Berikut adalah beberapa Introvert yang pernah saya temui dalam hidup saya, sejauh ini. Banyak dari mereka adalah teman, senior, keluarga bahkan Dosen atau profesor di universitas saya belajar. Oh iya saya tidak akan mengkategorikan, saya hanya menyebutkan karakter dan sifat sifat mereka yang berbeda dan unik. Serta saya menyamarkan nama mereka demi privasi mereka.

Pertama adalah teman saya Fahrul. Dia adalah Introvert yang suka menghabiskan liburanya bermain game sepanjang waktu dan maraton tv series berseason season. Untuk kebanyakan orang pasti mengenalnya sebagai pribadi yang cool, cuek atau bahkan dingin. Tapi dia tidak selalu menyendiri, dia suka dan sering hang out dengan teman temanya. Fahrul adalah tipe orang yang cerdas, berpikir cepat, Intuitif, mengatakan apa yang ada dalam pikiranya apa adanya alias blak blakan, percaya diri, Fleksibel namun kurang bisa dalam menyusun rencana atau mengorganisir sesuatu dalam hidupnya. Ia lebih suka hidup dalam spontanitas dari pada kestrukturan yang mengikat.

Orang yang kedua, sebut saja Indra. Teman saya yang satu ini adalah Introvert yang sangat rajin, pendiam, cerdas dan logis, walau kebanyakan orang yang mengedepankan logika biasanya cenderung blak blakan saat bicara tapi teman saya yang satu ini sangat sopan dan sangat menghargai serta peduli dengan orang lain. Mungkin bisa dikatakan dia salah satu orang yang rasionalitas dan empatinya seimbang. Dia juga pemikir yang dalam dan menyukai sesuatu yang Imajinatif seperti Fiksi.

Yang ketiga adalah Ryan, ada yang bilang Introvert itu adalah pemalu. Kenyataanya tidak semua orang introvert itu pemalu. Namun teman saya yang satu ini sangat pemalu dan pendiam. Tapi dia sangat religius dan sopan kepada orang lain.

Orang yang keempat adalah perempuan, sebut saja Vina. Orangnya sangat cerdas, rajin, ulet dan orang paling teliti yang saya kenal. Jauh dari kata malas. Seringnya dia terlihat cuek dan tidak begitu expresif. Tapi dia bukan orang yang selalu menyendiri, dia sering kali bergabung dengan teman temanya, yang mana juga kebanyakan introvert.

Berikutnya adalah Sindy, dia perempuan, terlihat pemalu karena suaranya yang cenderung pelan dan murah senyum, tapi sebenarnya cukup tegas dan percaya diri. Dan lagi, sangat cerdas. ia juga menggemari sesuatu yang imajinatif seperti Fiksi.

Selanjutnya juga perempuan, panggil saja Mbak Luna, ia seorang Senior saya di Organisasi yang bergerak di bidang Seni yang sempat saya bergabung beberapa waktu lalu. Ia seorang Ketua Divisi dari suatu bidang seni. Dia sangat bertanggung jawab dan murah senyum, terkesan kalem dan humoris.

Terakhir adalah seorang Dosen Teknik yang mengajar saya. Kita sebut saja Pak Arya. Pak Arya ini orang yang sangat berwawasan dan pintar (tentunya), dan penuh persiapan dalam segala hal. Pertama bertemu tak satupun dari kami (mahasiswanya) yang menduga kalau beliau adalah seorang Introvert. Dalam mengajar Beliau sangat bersemangat dan menjelaskan sangat detil, namun satu hal yang pasti, ia terlihat penuh perencanaan dan persiapan, jadi sangat jelas bagi saya bahwa semua performance nya dipersiapkan dengan matang sebelumnya, seolah setiap kata yang keluar dari mulutnya telah dipikirkan beberapa hari sebelumnya. Dan benar saja, beliau sedikit berbagi cerita pada kami bahwa ia adalah seorang Introvert, tapi beliau sangat aktif dalam kegiatan organisasi saat muda, dan juga penuh percaya diri.

Nah, itu semua kebanyakan adalah penilaian pribadi saya yang mana mungkin tidak selalu akurat, sebagian lagi adalah hasil sharing pendapat dengan mereka. Tujuan saya disini bukan untuk men-judge mereka satu persatu, tapi lebih untuk menerangkan karakter karakter unik mereka dari sudut pandang saya pribadi walau mereka semua memiliki satu kesamaan, mereka Introvert.
Itu semua bukan kesan pertama, bukan juga penilaian lompat kesimpulan. Tapi itu semua penilaian saya setelah mengenal mereka cukup lama. Benar, penilaian saya bisa saja salah karena saya tidak mungkin lebih tahu diri mereka dari pada diri mereka sendiri. Satu hal yang pasti, Introvert tidak semudah Extrovert untuk dinilai, extrovert sangat mudah dinilai karena mereka yang dengan senang hati menunjukan sifat mereka dan membicarakan tentang diri mereka. Tapi untuk Introvert, sangat tidak adil bila kita langsung menilai mereka dan melabeli mereka sebagai pemalu atau anti social pada kesan pertama bertemu, butuh pendekatan untuk bisa memahami dan mengenal mereka. Dan Introversi – Extroversi tidaklah menentukan kecerdasan seseorang, namun faktanya semua Introvert yang saya sebut diatas adalah orang orang yang sangat cerdas.

Kesimpulanya, Tidak semua Introvert itu Pemalu, ada yang sangat Percaya diri, ada tipe Introvert yang Terstruktur, penuh persiapan dan perencanaan dalam hidupnya tapi ada pula yang sangat fleksibel dan penuh spontanitas. Ada yang cenderung mengedepankan Pemikiranya ada yang cenderung mengedepankan perasaanya, dan ada pula yang cenderung imbang keduanya. Ada yang suka menyendiri, ada yang suka berinteraksi dengan teman dekatnya. Ada yang pendiam, ada yang terlihat talk-active mengenai bidang yang digelutinya.
Sebenarnya masih banyak introvert yang saya kenal, namun saya tidak begitu mengenal dekat dengan mereka sehingga tentu sangat tidak baik jika saya begitu saja mengambil kesimpulan tentang mereka.

Semoga tulisan ini bermanfaat, dan mohon maaf bila ada kata yang kurang tepat, koreksi sangat diapresiasi J.

Tuesday, February 7, 2017

INTROVERT STORY # 3 ~Kegiatan Soliter~

Source Pic; Google.com

            Salah satu fakta tentang Introvert adalah mereka menyukai kegiatan Soliter. Soliter? Maksud lo game kartu remi jadul di komputer yang masih pake sistem operasi Windows 98? yang biasa dimainin sama om om botak di rental komputer karena gak tahu hidup harus ngapain lagi itu?
            Tepat sekali, Tepat sekali gundul anda! Bukan njir, yang gue maksud kegiatan Soliter disini adalah kegiatan yang biasa dilakukan sendirian. Contohnya apa? Umumnya ya seperti Menulis, Membaca, Meditasi, Main game(offline), Mancing ikan, Mancing emosi, Uji nyali dan sebagainya.
            Kegiatan kegiatan Soliter yang dilakukan Introvert jika dilihat dari kacamata Extrovert bakal kelihatan kaytak ‘nggak ngapa ngapain.’. banyak extrovert yang bakal mikir kalo kegiatan kayak gitu itu boring, pasif, males,dll karena emang Cuma kelihatan duduk duduk aja
            Kayak pengalaman gue selama hidup kurang lebih 19 tahun dimuka bumi ini.
            Hari itu Pukul 6.00 pagi di hari libur, gue udah didepan PC mantengin Youtube. Emak gue yang agak extrovert udah marah marah “Dika..pagi pagi bukanya beres beres udah duduk aja. Ibu tinggal ke pasar dulu, pokoknya nanti sepulang dari Pasar kamar kudu rapi.”
            “Hahhahaha..”Gue ketawa nonton video streaming kualitas 144p yang nge-lag karena koneksi internet yang ngadat dan modem USB gue yang miskin kuota.
            “Heh!denger nggak sih..?”tanya emak.
            “Iye mak..”jawab gue. Akhirnya gue berniat untuk membereskan kekacauan kamar gue.
            Emak gue berangkat ke pasar, gue nengok ke belakang kearah kasur gue yang bikin emak gue ngomel dari tadi. Mata gue langsung melotot kaget, lobang hidung gue melebar selebar Stadion Gajayana, muka gue menghitam, eh bentar.. kalo itu udah dari dulu sih. Pokoknya gue saking kagetnya ngeliat kamar gue yang amburadul yang dimana untuk membereskanya setidaknya secara saintifik membutuhkan waktu 11.000 tahun setara dengan perjalanan dari Bumi menuju bintang proxima centauri menggunakan Becak Mbah Sugiono tukang becak gang 5 kenongosari – Turen.
            Pertanyaan dibenak guepun muncul, sebuah problema saintifik yang membutuhkan penalaran logika analitis serta pemahaman kognitif yang intuitif. “gimana caranya becak mbah Sugiono bisa menempuh perjalanan ke bintang lain?”
            ‘whoiiii…ngelantur banget nih’
            Oh iya kenapa gue jadi ngelantur gini nulisnya. Walau begitu, jika Becak Mbah Sugiono ditempelkan didepan Roket NASA yang dilepas ke luar angkasa dengan gaya dorong roket yang cukup besar, lalu melepaskanya ke luar angkasa yang gaya gravitasi 0 tepat ke arah bintang centauri, maka sesuai hukum Newton I, Becak akan sampai tujuan jika tak ada Gaya lain yang menghambat gaya dorong becak.
            ‘Cukup Sudah..!! mari akhir i cerita ngawur ini.!’
            Oke balik ke Kamar, entah gimana caranya dengan teknik kuno dari peradaban Sumeria gue berhasil membersihkan dan membereskan kamar gue dengan rapi. Emak gue datengpun gue tenang tenang.
            9.00 pagi, emak gue lewat depan kamar sambil ngintip kamar gue, pantat gue tak bergeser satu mikrometerpun dari posisi awal pagi tadi didepan PC.
            12.00 siang, emak gue lewat depan jendela kamar sambil melirik gue yang satu nano pun tak terjadi pergeseran pantat dengan kursi sejak posisi semula.
            “Astaghfirullah…begini nih kalau males, liburan seneng seneng kek, main keluar gitu, atau bantuin beres beres. Malah tiap hari kerjanya nggak ngapa ngapin didepan PC mulu..!”
            Oke dari situ dapet deh gue gimana pandangan seorang Ekstrovert pada orang introvert, ya mungkin Introvert lain nggak seaneh gue sih, jadi gak papa gak setuju sama kegiatan gue yang nggak menggeser pantat seinci pun selama berjam jam di depan PC.
            Sementara dari pandangan gue, sejak pagi hari hingga siang, udah banyak banget aktifitas yang gue lakuin, mulai dari Bikin Cerpen, ngedit Video, bikin Desain logo,  mempelajari termodinamika melalui ebook download ilegal gue, Main Soliter, mempelajari bahasa Spanyol secara online dan otodidak, dan ngasih nasehat di facebook ke orang asing yang mau suicide saking depresinya dan milih curhat di grub konseling online. Gimana bisa itu semua dibilang ‘Nggak ngapa ngapain’?
            Keesokan harinya gue joget aserehe di depan gang sambil moonwalk di aspal jalan biar kelihatan ‘Ngapa ngapain’ :v

            Oke deh dari sini semoga udah dapet gimana gambaran tentang kegiatan Soliter yang digemari Introvert itu kayak gimana dan bukan berarti males atau ‘nggak ngapa ngapain’. We do something and we have fun with our own way.

Kata - Kata Kasar (The Tabooness of Profanity)

"Kok kamu ngomong kasar kayak gitu sih?" "Jaga dong mulutmu!" "Kok kowe misuhan seh?" "Why do you cursed ...